26 September 2012

Bapak Pedagang Ketan Bakar


#Penulis: Daddy

Siang itu, kami berdua sedang memacu kuda besi kami di jalan aspal yang berkelok-kelok dengan jurang di sebelah sisi nya. kami menuju Curug Batu Sangkur yang letaknya di perbatasan kecamatan Cilengkrang dan kecamatan Lembang kabupaten Bandung. Ini kali pertama saya dan Bos saya jalan-jalan dengan mengandarai motor ke daerah tersebut.

Sekira 500 meter sebelum lokasi, kami berpapasan atau lebih tepat mendahului seorang bapak paruh baya yang sedang memanggul barang daganggan nya. Setelah melewatinya, si Bos sengaja memperlambat laju motornya.

si Bos: "Edan, eta si emang bisa (dagang) nepi kadieu nya", dengan nada memuji
"Hebatnya, pejantan tangguh!", jawab saya sambil tersenyum.

Tidak lama kemudian kami sampai juga di lokasi yang menjadi tujuan kami. kami memarkirkan motor di tempat parkir yang luamayan luas. Di salah satu sudut tempat parkir, ada seorang pedagang ketan bakar yang rupanya sudah dari pagi menjajakan dagangannya di situ. Dagangan yang sama dengan si Bapak yang kami temui sebelumnya, ketan bakar dan kopi. Kami menyempatkan untuk membeli kopi darinya.

Sambil minum kopi, kami sempet berbincang dengan si Akang penjualnya. Dari perbincangan itu diketahui bahwa dia berasal dari daerah Patrol. Perjalanan dari rumahnya ke tempat wisata itu, ditempuh dengan jalan kaki dan memerlukan waktu tidak kurang dari tiga jam. Dia harus berangkat saat hari masih gelap.

"Pami kasiangan, kapiheulaan batur kang, moal kengeng nanaon, kengeng cape hungkul,.." / "Kalo kesiangan, keduluin sama pedagang lain, gak akan dapet apa-apa, dapet capenya aja,.." katanya sambil tersenyum menang, karena saat ini dia tidak keduluan orang lain.

Lebih jauh, dia mengatakan kalo berdagang disitu hanya seminggu sekali, hanya hari minggu saja. Di hari yang lain dia berjualan keliling kampung. Berdagang di area wisata itu, jauh lebih enak dan lebih menguntungkan dibanding harus menjajakkan daganggan nya keliling kampung.

"Lumayanlah Kang, pami didieu mah bersihna tiasa kengen dugika 50 (rebu) mah" katanya.

Setengah jam kemudian, si Bapak pedagang ketan bakar yang tadi berpapasan di jalan pun tiba. Dia meletakkan daganggan nya di sudut tempat parkir yang lain. Sudut yang tidak lebih baik dari tempat si Akang berjualan.

Ada rasa salut bercampur iba dalam hati saya, ketika mengingat perjuangan yang harus ditempuh si Bapak pedagang ketan bakar itu. Ya,.. Curug Batu Sangkur memang terletak di daerah yang jauh dari hiruk pikuk manusia, dengan jalan aspal menuju lokasi yang sudah banyak rusak dan sebagian lagi masih jalan berbatu. Tidak sedikit diantaranya merupakan tanjakan dan tuturan.

Selang berapa lama, kami berdua memutuskan untuk pergi ke area wisata yang lain, Danau Sangkuriang. hingga kami berangkat dari situ, tidak ada pembeli yang menikmati ketan bakar jualan si Bapak.

...

Sudah dua malam terakhir, saya susah tidur. Saat hendak tidur, pikiran saya selalu kembali ke si Bapak penjual Ketan Bakar di curug Batu Sangkur itu...

Sudahkah kita mengucapkan terima kasih pada Bapak kita?

5 komentar:

  1. kehidupan memang seperti roda yang selalu berputar,
    dan saat memandang keatas adalah saat untuk mencari motivasi untuk kehidupan yang lebih baik,
    dan saat memandang kebawa adalah saat bersyukur kepada-NYA atas semua nikmat anugrah-NYA, serta menjadi motivasi untuk menolong kepada sesama yang kurang memiliki keberuntungan dalam kehidupan :-)

    BalasHapus
  2. @Hariyanto: Terimakasih sudah mampir dan berkomentar. semoga kita lebih peka terhadap kehidupan sosial di sekitar kita.

    BalasHapus
  3. membayangkan andai bertemu langsung dgn bapak pedagang ketan bakar itu

    BalasHapus
  4. Sampurasun........

    Punten bade following nya neng Ayu, nuhun.

    BalasHapus
  5. mannga bunda julie hehe...

    BalasHapus