20 Desember 2012

Desember Kelabu?


Apa ini yang namanya Desember kelabu?
mungkin....
Tapi semoga saja..suatu hari kelak, ketika membuka tulisan ini lagi, saya justru malah akan mentertawakannya...
semoga...



Semua pasti sudah menjadi ketetapan Alloh.. ..
saya tidak akan berhenti barbaik sangka, bahwa ini adalah bagian dari sekenario-Nya yang indah. Bahwa setiap hamba-Nya akan diuji dengan berbagai macam ujian, ada sedih, ada bahagia...dan kebetulan saja, kali ini Alloh sedang menguji dengan kesedihan..subhanalloh..atau mungkin juga ini teguran, karena kelalaian kami...apa pun itu.. saya tetap berbaik sangka.



16 November 2012

Menjadi Pribadi Tanpa Bete

Assalamua'laikum...
wowwwwwwwwwww.....*koprol sejuta kali...* lama kaliii  tak adpet yah hihihi...

Kebanyakan nulis di blog sebelah sih, jadi jarang nulis disini..
nah terus..sekarang mau cerita apa yah ujug-ujug datang langsung koprol ajeee? hm...baiklah saya akan mulai dari topik yang paling sering kena sama para perempuan, apalagi kalo misalnya lagi PMS...bete! siapa sih yang nggak pernah bete..bisa karena apa saja..mungkin urusan pekerjaan, masalah di rumah, urusan anak-anak...masalah dengan orang tua...teman, atau siapa pun...yang jelas saya kira siapapun bisa bete, termasuk saya...kayaknya udah dari orok bawaannya bete..makanya Daddy suka bilang, iyang kalo jalan mukanya jangan cemberut gak enak yang liat, suami aja sebel liatnya apalagi orang lain...hihihiih...

Padahal sebenernya saat itu saya nggak bete-bete banget, tapi kadang tampangnya aja bete karena nggak kobe..! kobe tau pan? ituloh bahasa temen2 saya waktu jaman SMA, kobe itu Kontrol beungeut..[beunget=bahasa sunda kasar, yang artinya muka], jadi maksudnya, yah sebisa mungkin muka itu harus dikontrol, dijaga..enak dilihat..apalagi sama pasangan. Lho kalo gitu membeohongi diri sendiri donk? ah nggak juga..coba deh, kalo lagi bete, liat di kaca..ishh..orang cantik aja mukanya jadi acut-acutan..gimana yang udah smirikiti mukanya hihihi...
Lagipula yah..setelah saya pikir-pikir..sesaat setelah Daddy komen kayak tadi di atas, bener juga emang...muka bete itu nggak enak dilihat, apalagi sama pasangan..lagi pula sebagai istri..sudah seharusnya, kita..[kita? lu aja kali...xixixi... ] bermuka manis, bertutur kata lembut dan tentu saja pengertian serta perhatian sama suami..#jleb....meskipun tentu..masih jauh nih kayaknya saya bisa kayak gini, tapi bukan berarti nggak mungkin kan? kuncinya..ya..bangun tidur..itu harus tetap ceria, pikirkan hal yang indah, positif, berdoa dengan khusuk semoga hari ini penuh dengan keberkahan...

Awalnya sih yah saya pikir itu tuh cuma omong kosong...tapi eh tapi saya cobain...suatu pagi bangun...begimana rasanya saya setiap bangun pagi? ouuwww..mumet bukan kepalang..yang ada di kepala itu cucian popok seember, cucian piring...mana kudu ke warung masak-masak..dan banyak lah ini itu yang jelas kalo kita terus menerus mengesihani diri sendiri..itu pikiran nggak ada berhentinya terus-terus memikirkan "kemalangan" yang menimpa kita yang sebenarnya itu tuh problem kecil-kecil yang bahkan nggak seberapa kalo dibandingkan perjuangan orang lain...orang-orang yang rumahnya baru terbakar, yang terkena konflik, yang terkena musibah sakit... pikirkan..! mereka terkadang jauh lebih tangguh dan tidak banyak mengeluh.. lah sementara saya..bangun pagi, dikasur yang empuk, nyaman..makanan meskipun belum tersedia tapi bisa diusahakan, bisa beli, bisa masak...tinggal mensyukuri...jadi nggak mesti ada lagi sebenarnya alasan buat bete-betean tiap kali bangun pagi...nah pikiran seperti ini lah yang kemudian menyadarkan saya bahwa saya lebih beruntung..jadi tak seharusnya bermuka bete..

Hal yang juga sering saya lupa adalah suami saya. Saya selalu mikir Daddy itu enak, bangun pagi, nongkrong depan tipi sambil ngopi....lha saya harus mondar mandir ke warung, masak, ngepel,beres-beres....semacam itulah....nah saya lupa kalau beliau itu baru memulai harinya untuk bekerja..menjemput rizki, memeras pikiran...mencari uang untuk siapa? untuk anak istrinya kan? saya lupa...kalo terkadang beliau susah tidur semalaman..karena apa? memikirkan harus bagaimana dapat penghasilan lebih supaya bisa membelikan banyak hal untuk anak istrinya...Sering juga, sepulang kerja daddy kelelahan tapi justru disambut dengan bete..karena telat 30 menit dari jadwal...saya lupa kalau dijalanan terkadang cepet terkadang macet..saya juga lupa kalo beliau ini kelelahan dan butuh senyuman untuk mengembalikan energinya yang terkuras setelah bekerja seharian...


Ah...benar-benar saya ini pelupa..tukang bete..dan kebanyakan komplen....yah mudah-mudahan...ke-bete-an ini segera pergi..terbawa angin..atau menguap ke angkasa.... 

Jadi tulisan ini sebenarnya isinya curhatan saya selama ini yang selalu bete, banyak mengeluh, dan sering mengasihani diri sendiri..dan mudah-mudahan dengan dituliskannya perasaan saya, akan menjadi pendorong,  reminder, dan pemberi  semangat untuk terus introspeksi diri...menjadi pribadi yang tangguh, tidak banyak mengeluh, menjadi istri yang solehah, serta menjadi ibu yang teladan penuh kasih sayang...aaamin...




Bandung, 2 Muharam 1434 H..
ditemani rintik hujan sore hari...

26 September 2012

Bapak Pedagang Ketan Bakar


#Penulis: Daddy

Siang itu, kami berdua sedang memacu kuda besi kami di jalan aspal yang berkelok-kelok dengan jurang di sebelah sisi nya. kami menuju Curug Batu Sangkur yang letaknya di perbatasan kecamatan Cilengkrang dan kecamatan Lembang kabupaten Bandung. Ini kali pertama saya dan Bos saya jalan-jalan dengan mengandarai motor ke daerah tersebut.

Sekira 500 meter sebelum lokasi, kami berpapasan atau lebih tepat mendahului seorang bapak paruh baya yang sedang memanggul barang daganggan nya. Setelah melewatinya, si Bos sengaja memperlambat laju motornya.

si Bos: "Edan, eta si emang bisa (dagang) nepi kadieu nya", dengan nada memuji
"Hebatnya, pejantan tangguh!", jawab saya sambil tersenyum.

Tidak lama kemudian kami sampai juga di lokasi yang menjadi tujuan kami. kami memarkirkan motor di tempat parkir yang luamayan luas. Di salah satu sudut tempat parkir, ada seorang pedagang ketan bakar yang rupanya sudah dari pagi menjajakan dagangannya di situ. Dagangan yang sama dengan si Bapak yang kami temui sebelumnya, ketan bakar dan kopi. Kami menyempatkan untuk membeli kopi darinya.

Sambil minum kopi, kami sempet berbincang dengan si Akang penjualnya. Dari perbincangan itu diketahui bahwa dia berasal dari daerah Patrol. Perjalanan dari rumahnya ke tempat wisata itu, ditempuh dengan jalan kaki dan memerlukan waktu tidak kurang dari tiga jam. Dia harus berangkat saat hari masih gelap.

"Pami kasiangan, kapiheulaan batur kang, moal kengeng nanaon, kengeng cape hungkul,.." / "Kalo kesiangan, keduluin sama pedagang lain, gak akan dapet apa-apa, dapet capenya aja,.." katanya sambil tersenyum menang, karena saat ini dia tidak keduluan orang lain.

Lebih jauh, dia mengatakan kalo berdagang disitu hanya seminggu sekali, hanya hari minggu saja. Di hari yang lain dia berjualan keliling kampung. Berdagang di area wisata itu, jauh lebih enak dan lebih menguntungkan dibanding harus menjajakkan daganggan nya keliling kampung.

"Lumayanlah Kang, pami didieu mah bersihna tiasa kengen dugika 50 (rebu) mah" katanya.

Setengah jam kemudian, si Bapak pedagang ketan bakar yang tadi berpapasan di jalan pun tiba. Dia meletakkan daganggan nya di sudut tempat parkir yang lain. Sudut yang tidak lebih baik dari tempat si Akang berjualan.

Ada rasa salut bercampur iba dalam hati saya, ketika mengingat perjuangan yang harus ditempuh si Bapak pedagang ketan bakar itu. Ya,.. Curug Batu Sangkur memang terletak di daerah yang jauh dari hiruk pikuk manusia, dengan jalan aspal menuju lokasi yang sudah banyak rusak dan sebagian lagi masih jalan berbatu. Tidak sedikit diantaranya merupakan tanjakan dan tuturan.

Selang berapa lama, kami berdua memutuskan untuk pergi ke area wisata yang lain, Danau Sangkuriang. hingga kami berangkat dari situ, tidak ada pembeli yang menikmati ketan bakar jualan si Bapak.

...

Sudah dua malam terakhir, saya susah tidur. Saat hendak tidur, pikiran saya selalu kembali ke si Bapak penjual Ketan Bakar di curug Batu Sangkur itu...

Sudahkah kita mengucapkan terima kasih pada Bapak kita?